Selasa, 14 Juni 2011

EDUCATIONAL TECHNOLOGY A Definition with Commentary By Alan Januszewski, Michael Molenda

Facilitating Learning 

AECT (2004):
Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat, Kalau dianalisis, di dalam definisi tersebut terkandung beberapa elemen berikut:
  1. studi;
  2. praktek yang etis;
  3. kemudahan belajar;
  4. perbaikan kinerja;
  5. Kreasi, penggunaan, dan pengelolaan;
  6. teknologi yang tepat; dan 
  7. proses dan sumber.
Istilah studi yang digunakan dalam definisi tersebut merujuk pada pemaknaan studi sebagai usaha untuk mengumpulkan informasi dan menganalisisnya melebihi pelaksanaan riset yang tradisional, mencakup kajian-kajian kualitatif dan kuantitatif untuk mendalami teori, kajian filsafat, pengkajian historik, pengembangan projek, kesalahan analisis, analisa sistem, dan penilaian. Studi dalam teknologi pendidikan telah berkembang terutama dalam kaitannya dengan pengembangan model pembelajaran, efektifitas kedudukan media dan teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran, dam penerapan teknologi dalam perbaikan belajar.
informasi, dan perkembangan pemanfaatan teknologi untuk memecahkan masalah belajar yang dihadapi peserta didik. Istilah studi dalam definisi tersebut pada hakekatnya ditujukan untuk memberi kemudahan belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta didik melalui kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar yang tepat.
Definisi tersebut mengarahkan bahwa teknologi pendidikan memiliki praktek yang etis dalam memberikan kemudahan belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta didik. Maksud dari praktek yang etis tersebut adalah adanya standar atau norma dalam mengkreasi atau merancang, menggunakan, dan mengelola proses pembelajaran dan pemanfaatan sumber belajar untuk kepentingan belajarnya peserta didik.
Dari definisi 2004 ini tergambar bahwa adanya pergeseran gerakan teknologi pendidikan dari definisi sebelumnya yaitu bahwa teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek, bahkan bidang kajian, menjadi studi dan praktek yang etis. Hal ini mengarahkan perlu adanya kajian-kajian yang mendalam dan lebih tepat sehingga diperoleh konsep-konsep dan praktek belajar sesuai dengan kepentingan belajar setiap individu. Namun demikian, perubahan gerakan tersebut tidak menyurutkan tujuan dari teknologi pendidikan yaitu memfasilitasi belajar dan perbaikan penampilan belajar peserta didik dengan menggunakan berbagai macam sumber belajar.
Studi atau kajian dalam definisi TP 2004 adalah merujuk pada pengumpulan informasi dan analisis data, baik kualitatif maupun kuantitatif. Seiring perkembangan makna TP itu sendiri maka penelitian pada TP mengalami pergeseran dari “pembuktian” bahwa media dan teknologi menjadi alat yang efektif untuk pembelajaran kepada investigasi yang dirumuskan untuk menguji kesesuaian penerapan proses dan teknologi bagi peningkatan belajar.
Kajian proses yang spesifik dalam TP adalah berkaitan dengan evaluasi formatif dan sumatif, design-based research dan studi-studi kasus yang mana biasanya menggunakan data-data kualitatif dan kuantitatif. Dalam konteks ini, tujuan studi adalah untuk meningkatkan kadar keajegan/keberulangan proses desain dan pengembangan terhadap kenyataan perubahan sistemik. Artinya bahwa sesungguhnya kajian terhadap kasus-kasus belajar layak untuk diteliti dengan berbagai teori-teori belajar yang diakui oleh bidang TP karena tingkat keajegan teori yang sudah teruji tersebut.
Praktek Etis
Berkaitan dengan proses teknologi, praktek etis merujuk pada proses yang tepat untuk sebuah situasi tertentu [given situation]. Aplikas etis bukan dimaksudkan untuk sensor perilaku yang tidak pantas namun lebih untuk “menyediakan kepemimpinan dalam mengidentifikasi  isu-isu baru yang muncul seiring perubahan budaya teknologi yang cepat yang memiliki pengaruh pada etika profesional.” AECT telah mengadopsi sebuah kode etis “yang dimaksudkan untuk membantu para anggota baik secara individu maupun kolektif dalam menjaga suatu perilaku profesional yang tinggi.” Berkaitan dengan proses, melalui AECT para teknolog pendidikan seharusnya sadar akan peran mereka sebagai orang yang bertanggung jawab atas proses-proses berkaitan dengan etika praktis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja.
Memfasilitasi Belajar
Teknologi pendidikan menyatakan bahwa belajar dapat difasilitasi melalui implementasi dari proses pembelajaran tertentu. Proses preskriptif ini kerap diturunkan dari teori-teori deskriptif tentang bagaimana manusia belajar melalui interaksi dengan lingkungannya:
a.        Sembilan peristiwa/langkah belajar Gagne yang merupakan identifikasi tentang kondisi mental seseorang agar siap untuk belajarn. Kesembilan peristiwa ini  merupakan tahapan-tahapan yang berurutan di dalam sebuah proses pembelajaran. Tujuannya adalah memberikan kondisi yang sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. kesembilan peristiwa belajar dan pembelajaran itu menjadi berarti karena proses mental yang seharusnya ada pada diri siswa telah difasilitasi oleh guru dengan langkah/tindakan kongrit. Penerapan model yang dikemukakan oleh Gagne sudah mengimplementasikan teori pembelajaran yang bersifat perspektif dan teori belajar yang bersifat deskriptif yaitu cognitive learning theory. Bahwa di dalam proses pembelajaran guru harus paham benar seperti apa proses mental yang ada dalam diri siswa dan manakala guru menyadari akan hal itu, maka dengan mudah guru dapat memfasilitasi berbagai pengalaman belajar seperti apa yang cocok agar proses mental siswa tersebut terus berkembang.
b.        Behaviorist learning theory telah menginspirasi model proses pembelajaran yang dikenal sebagai instruction programmed atau pengajaran terrencana dengan langkah-langkah tertentu: mengidentifikasi sebuah tujuan belajar dalam kerangka perilaku, menunjukkan perilaku yang diinginkan, mendorong pembelajar melakukan perilaku yang diinginkan, dan mengikuti tindakan yang diinginkan dengan suatu penekanan. Semua langkah ini diwujudkan dalam desain aktifitas yang didalamnya tersusun rencana pengajaran. Kombinasi antara teori sistem dengan model proses desain ini pada perkembangannya membentuk apa yang kita kenal sebagai ISD atau Desain Sistem Pembelajaran.
c.        Constructivist learning theory telah mengilhami berkembangnya sejumlah model proses pembelajaran seperti problem based learning dan collaborative learning. Sesungguhnya tidak ada proses pembelajaran konstruktivis yang berdiri sendiri, artinya proses pembelajaran itu lebih merupakan sejumlah strategi pembelajaran yang secara umum mengikuti proses utamanya: libatkan, atau lebih ekstrimnya tenggelamkan pembelajar ke dalam lingkup masalah yang realistis dan dukung mereka melewati berbagai fase berbeda manakala mereka berjuang untuk membangun pemahaman mereka tentang masalah tersebut. Itulah sebabnya TP mengundang sejumlah kerangka teoritis untuk mengembangkan proses pembelajaran yang menolong pembelajar mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Peningkatan Kinerja
TP mampu meningkatkan kinerja para murid, guru dan desainer pembelajaran, serta organisasi pendidikan. Beberapa cara yang berkenaan dengan hal ini membutuhkan proses khusus sebagaimana kompetensi yang diajukan oleh the International Board of Standards for Training, Performance, and Instruction :
a.       Teknologi pendidikan memberikan makna belajar yang berhasil melalui peningkatan kinerja murid dengan memfokuskan pengalaman-pengalaman belajar pada tujuan yang benar.
b.       Pengalaman-pengalaman yang diperkaya dengan penggunaan teknologi dapat memimpin kepada tingkat pemahaman yang lebih dalam, dan bukan sekedar rangkaian hapalan.
c.       Pengalaman-pengalaman belajar yang menyatu dengan penggunaan teknologi dapat meningkatkan transfer keahlian-keahlian baru atas masalah yang sesungguhnya.
Bagi guru dan desainer pembelajaran, teknologi pendidikan dapat memperbaiki produktifitas dengan mengurangi waktu belajar dan meningkatkan keefektifitas belajar. Proses utama yang digunakan adalah pendekatan sistem terhadap desain dan pengembangan pembelajaran. Demikian pula dengan institusi pendidikan. Melalui teknologi pendidikan memampukan institusi menciptakan dan menawarkan kursus online dengan harga yang kompetitif disbanding dengan kursus yang sifatnya tradisional.
Penciptaan
Teknologi pendidikan memberikan kemungkinan untuk menciptakan material dan sistem pembelajaran yang efektif melalui proses-proses pengembangan tertentu. Dengan pendekatan sistem, satu set proses pengembangan yang diistilahkan sebagai desain sistem pembelajaran [ISD] mampu meringkas proses rencana pembelajaran yang panjang dalam satu langkah kecil, yang tersusun secara logis, dimana output setiap langkah menjadi input untuk langkah berikutnya.

Pemanfaatan
Kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan media oleh pembelajar [sering diistilahkan sebagai media utilization] juga dianggap sebagai proses dan diarahkan oleh berbagai model proses. Dirunut dari sejarah era Perang Dunia II merupakan titik awal berpengaruhnya pemanfaat teknologi dalam dunia pendidikan. Film-film memainkan peran penting dan berefek baik dalam pelatihan militer AS. Para trainer atau pelatih memperlihatkan media audiovisual “film” untuk meningkatkan kemampuan militer bagi Angkatan Laut AS.
Penuntun terkini mengenai proses pemanfaatan media dikemukakan oleh Smaldino, dkk dengan ASSURE modelnya. Sekedar diingatkan bahwa ASSURE model ini merupakan ecletic guide dari berbagai model dan teori pembelajaran dan teori belajar yang berbeda.
A
S
S
U
R
E
Analisa Peserta didik
Menetapkan tujuan-tujuan
Memilih metode, media, dan bahan pembelajaran
Memanfaatkan media dan bahan pembelajaran
Meminta partisipasi pembelajar
Evaluasi dan revisi
Gb. 5 Model ASSURE untuk pemanfaatan teknologi
Pengelolaan
Proses teknologi pendidikan menolong untuk  melakukan manajemen proyek yang sesuai dan tepat. “Good project manajement saves organizational resources, increases productivity, and increases the likelihood that projects will be successful.” [Andreadis dalam Molenda, 2006]. SPADES atau start, plan, analyze, develop, dan stop merupakan sebuah paradigma manajemen proyek yang didasarkan pada proses mendasar berkenaan dengan hal memulai proyek, merencanakan, melaksanakan, dan mengakhiri proyek. Dalam SPADES terdapat komponen yang berkaitan dengan pengelolaan dalam bidang teknologi pendidikan yaitu dilibatkannya beberapa bentuk proses desain pembelajaran [ID project management] dan teknologi seperti penentuan tugas, peristiwa/event, prosedur, produk sebagai hasil dari proyek, dan proses yang biasanya diasosiasikan dengan pengelolaan proyek-proyek teknologi pendidikan. Perlu diingat bahwa jangka waktu pelaksanaan manajemen proyek adalah terbatas atau pendek dengan tanpa otoritas jangka panjang. Manajemen proyek adalah bagian kecil dari manajemen program.

4 komentar: